TAUHID ADALAH AQIDAH BAWAAN MANUSIA
MAKNA TAUHID
Kata ‘tauhid’ dalam bahasa Arab adalah mashdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja:
وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا
wahhada – yuwahhidu –tauhîdan, artinya membuat sesuatu menjadi satu. [Lihat Lisânul ‘Arab, Bâb wa ha da; At-Ta’rîfât, hlm. 96; Al-Hujjah, 1/305, 306]
Adapun secara istilah agama, tauhid artinya mengimani keberadaan Allâh, mengesakan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan rubûbiyah dan ulûhiyah, dan beriman kepada seluruh nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. [Lihat Lawâmi’ul Anwâr, hlm. 57; Al-Qaulus Sadîd, hlm. 16; At-Tanbîhât as-Saniyyah, hlm.9; dan Al-Qaulul Mufîd, 1/5]
TAUHID ADALAH AQIDAH BAWAAN MANUSIA
Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia memiliki fitrah beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Manusia itu dilahirkan dalam keadaan mengimani keberadaan Allâh Azza wa Jalla bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Seandainya manusia dibiarkan pada fitrahnya yang asli, dia pasti tumbuh menjadi orang yang mentauhidkanNya. [Lihat: Tafsîr al-Baghawi, 3/482; Tafsîr Ibni Katsîr, 3/688; dan Ma’ârijul Qabûl, 1/91, 93]
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allâh; (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar-Rûm/30:30]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Semua bayi dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi. [HR. Al-Bukhâri, no. 1359 dan Muslim, no. 2658]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda meriwayatkan dari Rabbnya, bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
Sesungguhnya Aku (Allâh) telah menciptakan hamba-hambaKu semuanya hanif (lurus; muslim), dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama mereka. [HR. Muslim, no. 2865]
Oleh karena itu Nabi Adam Alaihissallam, bapak semua manusia dan semua anaknya yang hidup di zamannya adalah orang-orang yang bertauhid. Keturunan Nabi Adam setelahnya terus berada di atas tauhid sampai datang kaum Nabi Nûh Alaihissallam, setan menampakkan syirik sebagai sesuatu yang bagus kepada mereka dan mengajak mereka menuju syirik, sehingga mereka terjerumus ke dalam syirik.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan, dan Allâh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. [Al-Baqarah/2: 213]
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
كَانَ بَيْنَ نُوحٍ وَآدَمَ عَشَرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْحَقِّ. فَاخْتَلَفُوا، فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
Antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam ada sepuluh generasi, mereka semua berada di atas syari’at yang haq, tetapi kemudian mereka berselisih, maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan”. [Riwayat Thabari di dalam tafsirnya, 4/275 dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak, 2/546. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/569]
Dan penyebab perselisihan manusia pertama kali di muka bumi adalah kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nûh Alaihissallam , disebabkan oleh sikap ghuluw (melewati batas) dalam mengagungkan orang-orang shalih. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum Nabi Nûh Alaihissallam :
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah (tuhan-tuhan) kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.[Nûh/71:23]
Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum Nabi Nuh di atas, asalnya adalah orang-orang shalih yang telah mati. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Patung-patung yang dahulu ada pada kaum Nabi Nûh setelah itu berada pada bangsa Arab. Adapun Wadd berada pada suku Kalb di Daumatul Jandal. Suwâ’ berada pada suku Hudzail. Yaghûts berada pada suku Murâd, lalu pada suku Bani Ghuthaif di al-Jauf dekat Saba’. Ya’uq berada pada suku Hamdan. Dan Nasr berada pada suku Himyar pada keluarga Dzil Kila’. Itu semua nama-nama orang-orang shalih dari kaum (sebelum-pen) Nuh. Ketika mereka mati, syaithan membisikkan kepada kaum mereka: “Buatlah patung yang ditegakkan pada majlis-majlis mereka, yang mereka dahulu biasa duduk. Dan namakanlah dengan nama-nama mereka!”. Lalu mereka melakukan. Patung-patung itu tidak disembah. Sehingga ketika mereka (generasi pembuat patung) mati, ilmu (agama) telah hilang, patung-patung itu tidak disembah”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4920]
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Ini memberikan faidah berhati-hati dari ghuluw dan sarana-sarana kemusyrikan, walaupun niatnya baik. Karena sesungguhnya syaithan memasukkan mereka (orang-orang di zaman Nabi Nuh–pen) dari pintu ghuluw (melampaui batas) terhadap orang-orang shalih dan berlebihan di dalam mencintai mereka. Sebagaimana telah terjadi semisal itu di dalam umat ini. Syaithan menampakkan kepada mereka berbagai bid’ah dan ghuluw dengan bentuk mengagungkan orang-orang sholih dan mencintai mereka. Sehingga akhirnya syaithan menjerumuskan mereka di dalam perkara yang lebih besar dari itu, yaitu menyembah orang-orang shalih itu dari selain Allâh Azza wa Jalla ”. [Fathul Majîd, hlm: 197, penerbit: Dar Ibni Hazm]
MACAM-MACAM TAUHID
Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan macam-macam tauhid di dalam banyak ayat di dalam kitab-Nya. Di antaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla di permulaan surat al-Fâtihah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam. [Al-Fâtihah/1: 2]
Lafazh Allah menetapkan adanya tauhid uluhiyah.
Lafazh ‘Rabb semesta alam’ menetapkan adanya tauhid rububiyah.
Juga firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat ini:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [Al-Fâtihah/1: 3]
menetapkan adanya tauhid asma’ dan sifat.
Juga firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat yang sama:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Yang menguasai di Hari Pembalasan. [Al-Fâtihah/1:4]
menetapkan adanya tauhid rububiyah.
Dan firman Allâh:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. [Al-Fâtihah/1: 5]
menetapkan adanya tauhid uluhiyah.
PEMBAGINAN JENIS TAUHID
Ayat-ayat yang yang menjelaskan macam-macam tauhid banyak sekali dan gamblang menjelaskan macam-macam tauhid ini.
Oleh karena itu para Ulama dari kalangan Salaf umat ini dan semua madzhab empat, Hanafiyah, Mâlikiyah, Syâfi’iyah, Hanabilah, mereka semua menjelaskan tiga macam tauhid.
Tiga macam tauhid ini adalah:
Tauhid Rubûbiyah.
Tauhid Ulûhiyah (Ibadah).
Tauhid Asmâ dan Sifat.
Sebagian Ulama menyebutkan tiga macam tauhid ini sekaligus, sebagian yang lain menyebutkan sebagian macam tauhid pada waktu pembicaraan tentang permasalahan-permasalahannya.
Dan sebagian Ulama menjadikan macam tauhid menjadi dua jenis:
Tauhid fil ma’rifah wal itsbât (tauhid berkaitan dengan pengetahuan dan penetapan), ini mencakup Tauhid Rubûbiyah dan tauhid asmâ’ dan sifat-sifat Allâh).
Tauhid fit thalab wal qashd, ini adalah tauhid ulûhiyah
Kedua pembagian itu benar, diambil dari nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. [Lihat: Madârijus Sâlikîn, 3/484, karya imam Ibnul Qayyim al-Hanbali; Syarah ath-Thahâwiyah, hlm. 24, karya imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi; dan Syarah Fiqih Akbar karya imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
___
Footnote
[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 35-37, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain.
Wednesday, 31 August 2016
Tuesday, 16 August 2016
Kisah Habib Munzir di Papua
Sebuah sikap yang patut untuk di tiru.
Sungguh didalam perjalanan tsb begitu banyak hikmah yang bisa di petik. Salah satunya adalah kisah berikut ini. Ditengah perjalanan (dalam perjalanan dari Sorong menuju Teminabuan Papua) dalam perjalanan tersebut Habib Munzir dan Tim mencarter mobil 4×4 bak terbuka, di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang biarawati, seorang wanita pimpinan agama non muslim berusia diatas 50 an. Sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil, Asri (yg menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah di carterkan utk Habib Munzir dan Tim.
"Habib, apakah ibu biarawati ini boleh di naikkan?". Tanya sopir (Asri) kepada Habib Munzir.
Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab "Boleh, tapi mau ditempatkan dimana? disini sudah tidak ada tempat".
"Taruh di bak belakang aja bib bersama barang" kata Asri.
"Hmm tapi saya merasa tidak tega jika ibu itu harus duduk di belakang bersama barang" jawab Habib Munzir.
"Dia sudah biasa seperti itu kok bib" jawab Asri.
Mendengar jawaban "sudah biasa" tsb Habib Munzir kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, "sudah biasa ??", "dia sudah biasa seperti itu bib", seorang biarawati penyeru kepada agama keyakinannya ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.
Kata Habib Munzir lagi "maka tidak salah kalau seandainya agama non muslim yang menjadi maju, karena para dai muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka . Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur , karena para dai nya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya."
Dan Ibu biarawati tersebut pun naik di Bak belakang mobil 4X4 yang dipakai, satu tempat bersama barang.
Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada ibu biarawati yang sedang duduk di bak belakang.
Kata Habib Munzir "Hati saya terasa tercekik, sungguh! walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yg usianya cukup tua, duduk di Bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yg luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai rela duduk di Bak belakang mobil, dalam keadaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya Da’i non muslim ini, hati saya seperti tercabik cabik, saya malu, malu sekali.."
Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan ibu biarawati tsb.
"Berhenti Asri, berhenti..!" kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Asri. Asri pun menghentikan mobil.
"Ada apa bib?" Tanya Asri.
"Saya mau pindah ke belakang bak menggantikan posisi ibu itu, biar ibu itu duduk didalam sini menggantikan tempat saya duduk" jawab Habib Munzir.
Mendengar itu Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. "Itu tidak mungkin Habib, Tidak mungkin habib turun dan pindah ke bak belakang..!, habib sudah carter mobil saya..!!, lagi pula ini sedang hujan habib..!!",
Habib Munzir menjawab "Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya meskipun ia beda agama, Rasulullah saw menghormati yang lebih tua ".
Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti.
Habib Munzir pindah ke bak belakang, beberapa rombongan yang lain pun ikut ingin kebelakang, tetapi Habib Munzir melarang mereka.
"Yang lainnya tetap dalam posisinya, cukup satu orang yang menemani saya di Bak Belakang, sudah ada satu orang penjaga Barang kok di belakang"
Dan mereka pun sangat bersempit sempit 4 orang di kursi belakang.
Tapi Ibu itu ternyata tak mau pindah ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.
"Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk kedalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil" jawab Habib Munzir.
Mau tidak mau akhirnya ibu itupun masuk kedalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH Ahmad Baihaqi. Duduk di lantai bak mobil yang keras, sesekali tubuh beliau terbanting-banting karena jeleknya kondisi jalan yang di lewati. Padahal saat itu beliau sudah dalam keadaan sakit. Penyakit yang kerap kambuh jika beliau sedang kelelahan, baik kelelahan pikiran atau kelelahan tubuh.
Hujan pun turun semakin deras membasai tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka sorban dan kacamatanya karena basah, cuma pakai peci. Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tapi menangis karena faktor biarawati tadi.
Kata Habib Munzir "Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya biarawati itu, betapa malunya saya karena saya dimanjakan di Jakarta, sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para dai non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun kesana jika kita para da'i muslim hanya duduk di kota-kota besar?"
Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk kedalam menggantikan tempatnya, tapi Habib Munzir menolak.
"saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH Ahmad baihaqi kedepan, tapi saya tidak mau pindah". maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari bak, hanya yang lain saja bergantian.
kata Habib Munzir menceritakan "Saya duduk di bak Belakang untuk membalas pilu saya akan semangat seorang wanita tua itu yang penyeru kepada agama non muslim, aku seorang penyeru ke Jalan Allah, aku malu pada Allah.. patutnya aku berjalan kaki 200 km bukan duduk di Bak terbuka yg masih bisa santai".
Subhanallah...sebuah kata2 yang penuh hikmah, patut utk di renungkan, terutama bagi para da'i yang hanya mau berdakwah karena faktor amplop, dan hanya mau di tempat2 yang enak.
Sungguh didalam perjalanan tsb begitu banyak hikmah yang bisa di petik. Salah satunya adalah kisah berikut ini. Ditengah perjalanan (dalam perjalanan dari Sorong menuju Teminabuan Papua) dalam perjalanan tersebut Habib Munzir dan Tim mencarter mobil 4×4 bak terbuka, di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang biarawati, seorang wanita pimpinan agama non muslim berusia diatas 50 an. Sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil, Asri (yg menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah di carterkan utk Habib Munzir dan Tim.
"Habib, apakah ibu biarawati ini boleh di naikkan?". Tanya sopir (Asri) kepada Habib Munzir.
Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab "Boleh, tapi mau ditempatkan dimana? disini sudah tidak ada tempat".
"Taruh di bak belakang aja bib bersama barang" kata Asri.
"Hmm tapi saya merasa tidak tega jika ibu itu harus duduk di belakang bersama barang" jawab Habib Munzir.
"Dia sudah biasa seperti itu kok bib" jawab Asri.
Mendengar jawaban "sudah biasa" tsb Habib Munzir kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, "sudah biasa ??", "dia sudah biasa seperti itu bib", seorang biarawati penyeru kepada agama keyakinannya ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.
Kata Habib Munzir lagi "maka tidak salah kalau seandainya agama non muslim yang menjadi maju, karena para dai muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka . Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur , karena para dai nya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya."
Dan Ibu biarawati tersebut pun naik di Bak belakang mobil 4X4 yang dipakai, satu tempat bersama barang.
Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada ibu biarawati yang sedang duduk di bak belakang.
Kata Habib Munzir "Hati saya terasa tercekik, sungguh! walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yg usianya cukup tua, duduk di Bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yg luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai rela duduk di Bak belakang mobil, dalam keadaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya Da’i non muslim ini, hati saya seperti tercabik cabik, saya malu, malu sekali.."
Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan ibu biarawati tsb.
"Berhenti Asri, berhenti..!" kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Asri. Asri pun menghentikan mobil.
"Ada apa bib?" Tanya Asri.
"Saya mau pindah ke belakang bak menggantikan posisi ibu itu, biar ibu itu duduk didalam sini menggantikan tempat saya duduk" jawab Habib Munzir.
Mendengar itu Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. "Itu tidak mungkin Habib, Tidak mungkin habib turun dan pindah ke bak belakang..!, habib sudah carter mobil saya..!!, lagi pula ini sedang hujan habib..!!",
Habib Munzir menjawab "Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya meskipun ia beda agama, Rasulullah saw menghormati yang lebih tua ".
Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti.
Habib Munzir pindah ke bak belakang, beberapa rombongan yang lain pun ikut ingin kebelakang, tetapi Habib Munzir melarang mereka.
"Yang lainnya tetap dalam posisinya, cukup satu orang yang menemani saya di Bak Belakang, sudah ada satu orang penjaga Barang kok di belakang"
Dan mereka pun sangat bersempit sempit 4 orang di kursi belakang.
Tapi Ibu itu ternyata tak mau pindah ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.
"Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk kedalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil" jawab Habib Munzir.
Mau tidak mau akhirnya ibu itupun masuk kedalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH Ahmad Baihaqi. Duduk di lantai bak mobil yang keras, sesekali tubuh beliau terbanting-banting karena jeleknya kondisi jalan yang di lewati. Padahal saat itu beliau sudah dalam keadaan sakit. Penyakit yang kerap kambuh jika beliau sedang kelelahan, baik kelelahan pikiran atau kelelahan tubuh.
Hujan pun turun semakin deras membasai tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka sorban dan kacamatanya karena basah, cuma pakai peci. Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tapi menangis karena faktor biarawati tadi.
Kata Habib Munzir "Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya biarawati itu, betapa malunya saya karena saya dimanjakan di Jakarta, sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para dai non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun kesana jika kita para da'i muslim hanya duduk di kota-kota besar?"
Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk kedalam menggantikan tempatnya, tapi Habib Munzir menolak.
"saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH Ahmad baihaqi kedepan, tapi saya tidak mau pindah". maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari bak, hanya yang lain saja bergantian.
kata Habib Munzir menceritakan "Saya duduk di bak Belakang untuk membalas pilu saya akan semangat seorang wanita tua itu yang penyeru kepada agama non muslim, aku seorang penyeru ke Jalan Allah, aku malu pada Allah.. patutnya aku berjalan kaki 200 km bukan duduk di Bak terbuka yg masih bisa santai".
Subhanallah...sebuah kata2 yang penuh hikmah, patut utk di renungkan, terutama bagi para da'i yang hanya mau berdakwah karena faktor amplop, dan hanya mau di tempat2 yang enak.
Cerita ini tentang perjalanan dakwah Habib Munzir di Papua direntang tahun 2008 sampai 2010.
Subscribe to:
Posts (Atom)