Hari
Ahad Tim Dokter forensik Muhammadiyah telah melakukan autopsi terhadap
jenazah Siyono, warga Klaten yang tewas usai ditangkap Densus 88.
Ada
beberapa catatan penting sebagai temuan sementara yang disampaikan oleh
Dokter Forensik Muhammadiyah dan Dokter Forensik Polri yang kemaren
disampaikan oleh Ketua Tim Dokter Forensik Muhammadiyah, yakni dr. Gatot
Suharto, SpF :
Kedua, ditemukan luka dibeberapa bagian tubuh akibat benturan keras alat/benda tumpul.
Ketiga, ditemukan patah tulang jenazah.
Tim
Dokter Forensik memerlukan waktu paling lama 10 hari utk meneliti lebih
jauh di laboratorium. Dan untuk hasil final nanti akan diserahkan Tim
Forensik Muhammadiyah kepada PP Muhammadiyah dan PP Muhammadiyah akan
menyerahkan kepada Komnas HAM.
Menyikapi
hasil otopsi Tim Dokter Forensik Muhammadiyah, melalui Fanspage
Facebook Divisi Humas Polri mengeluarkan press release sebagai berikut
KADIV HUMAS POLRI: HASIL OTOPSI SIYONO TIDAK ADA BUKTI PENEMBAKAN,ADA YANG SEBAR FITNAH UNTUK LEMAHKAN PERANG LAWAN TERORISME
Kepala
Divisi Humas Polri Irjen Pol Anton Charliyan merespon positif hasil
otopsi sembilan dokter forensik yang ditunjuk Pengurus Pusat
Muhammadiyah dan seorang dokter dari Polda Jawa Tengah untuk melakukan
proses otopsi terhadap jenazah Siyono di tempat pemakaman um…um Desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Minggu 3 April 2016.
Hal
penting dari otopsi ini memperjelas, bahwa tidak ada luka tembak di
tubuh tersangka teroris Siyono. “Ini jelas menjadi fakta paling
substansial bagi pencegahan dan pemberantasan terorisme di negara kita,”
tegas Kadiv Humas.
Disampaikan
Kadiv Humas Polri, sebelumnya pihak Polri telah menyampaikan kepada
publik. Bahwa, kematian Siyono terjadi karena adanya insiden, dimana
Siyono melakukan perlawanan dan menyerang petugas yang sedang melakukan
pendalaman terhadap jaringan terorisme.
Karena
membahayakan nyawa, petugas pengawal melakukan pembelaan diri. Dalam
perkelahian satu lawan satu tersebut, Siyono meninggal dunia akibat
terjatuh dalam perkelahian.
“Spekulasi
bahwa Siyono meninggal karena ditembak, adalah fitnah dan tuduhan yang
tidak mendasar. Bahkan, ada kecenderungan ini bagian dari provokasi
sistematis untuk melemahkan Densus 88 dalam upaya memerangi terorisme,”
tegas Irjen Pol Anton Charliyan.
Ditegaskan
juga, provokasi dengan menyebarkan fitnah bahwa Siyono meninggal karena
ditembak, diduga kuat sengaja disebarkan oleh kelompok pro gerakan
radikal, yang mengatasnamakan agama.
Sumber : Divisi Humas Polri
Redaksi menilai ada beberapa kejanggalan yang disampaikan Kadiv Humas Polri terkait hasil proses otopsi Siyono
Pertama,
Humas Polri tidak mengutip secara utuh penjelasan tim dokter forensik
Muhammadiyah tentang hasil sementara otopsi Siyono, tidak dijelaskan
tentang ditemukannya luka akibat benda tumpul dan beberapa tulang yang
patah.
Kedua, Humas Polri dengan
menggebu gebu mengatakan tidak ada luka tembak dan menuding ada fitnah
yang disebarkan bahwa Siyono tertembak, lagi – lagi ini pernyataan yang
membingungkan publik karena sejak awal tidak pernah berkembang opini
bahwa Siyono tewas ditembak dan coba searching di media – media tidak
ada yang memberitakan Siyono tewas ditembak.
Publik
mempertanyakan kenapa Siyono bisa meninggal ketika dibawah pengamanan
Densus 88 hal ini yang harus terjawab bukan kemudian membangun opini
seolah – olah Polri menjadi korban fitnah sistematis.
Ketiga,
Divisi Humas Polri keukeuh menyatakan Siyono meninggal karena adanya
insiden, dimana Siyono melakukan perlawanan dan menyerang petugas yang
sedang melakukan pendalaman terhadap jaringan terorisme, karena
membahayakan nyawa petugas pengawal melakukan pembelaan diri. Dalam
perkelahian satu lawan satu tersebut, Siyono meninggal dunia akibat
terjatuh dalam perkelahian.
Keterangan
soal ini juga masih menjadi misteri bagaimana mungkin Siyono bisa
berkelahi satu lawan satu sedangkan Densus 88 jika menangkap atau
mengawal terduga atau tersangka teroris selalu dengan kekuatan penuh
banyak personil dengan senjata lengkap.
Tidak
dijelaskan juga kapan peristiwa perkelahian tersebut, dimana dan dengan
siapa berkelahinya belum lagi apakah benar meninggalnya karena
terjatuh, terjatuh darimana?
Di
kesempatan terpisah Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah mengatakan bahwa
apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui outopsi atas permintaan Komnas
HAM bukan opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui Usaha ilmiah.
Justru
Polri yang berusaha membangun opini tanpa dasar pijakan ilmiah seperti
bisa menyebut kematian Siyono akibat benturan dikepala padahal fakta
ilmiah menunjukkan tidak pernah ada otopsi sebelumnya seperti yang
disampaikan Dokter Gatot yang tidak dibantah oleh Dokter forensik dari
Polri sendiri.
Mari kita Bantu Polisi
menjadi lebih profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup
warga negaranya siapa pun Mereka. Ini saatnya kita Bantu Polisi berubah
menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono
mencari keadilan. (Sumber : sangpencerah)
